Rabu, Desember 26

Budaya Natal Ancam Akidah Umat


Seusai menghadap presiden SBY untuk audiensi tentang kesiapan penyelenggaraan perayaan puncak Natal 2012, ketua panitia Perayaan Natal Nasional, Nafsiah Mboy yang juga menteri kesehatan, menyatakan bahwa presiden SBY dan wapres Boediono akan turut menghadiri perayaan puncak Natal nasional yang akan diselenggarakan tanggal 27 Desember. Mboy juga menyatakan , “Presiden mengharapkan penyelenggaraan puncak perayaan Natal 2012 bersifat inklusif, dan dapat dirasakan semua pihak, tidak hanya oleh umat Kristiani. “ (lihat, antaranews.com, 7/12).

Ancam Akidah Umat
                Selama bulan Desember, negeri Islam ini yang mayoritas penduduknya muslim, tampil bak negeri Kristen Eropa. Di toko-toko, supermarket, perusahaan swasta, sampai instansi pemerintah hari natal disambut dengan meriah. Acara TV pun dipenuhi dengan film, dokumentar ,talkshow,  berita, entertaiment yang bertemakan natal. Bagi pemeluk agama Nashrani tentu sah-sah saja merayakan ntal. Tapi ‘memblow up’ demikian rupa kegiatan Natal, dan memberlakukannya untuk dan agar diikuti oleh semua orang, bisa menyakiti umat Islam. Di supermarket dan mall-mall yang tentu saja mayoritas pengunjungnya umat Islam disuguhkan lagu-lagu natal terus-menerus. Tidak hanya itu, karyawan sampai satpam yang kita yakin mayoritasnya muslim “diharuskan” memakai atribut Natal seperti topi Santa Claus, dll. Umat pun diseru untuk mengucapkan Selamat Natal dan bila perlu ikut merayakan atau memfasilitasinya. Semua itu dikatakan sebagai wujud nyata toleransi dan kerukunan antar umat beragama. Anggapan seperti itu sangat berbahaya. Seolah-olah siapa yang tidak mau ikut merayakan atau memberikan ucapan selamat Natal di anggap tidak toleran. Anggapan itu jelas keliru dan dangkal.
                Umat Islam harus mewaspadai seruan-seruan untuk meraykan atau mengucapkan selamat Natal, termasuk harapan presiden SBY di atas. Sebab dibalik seruan itu ada bahaya besar yang bisa mengancam aqidah umat islam. Seruan berpartisipasi dalam perayaan Natal, tidak lain adalah kampanye ide pluralisme yang mengajarkan kebenaran semua agama. Menutur paham pluralisme, tidak ada tidak ada kebenaran mutlak. Semua agama dianggap benar. Itu berarti, umat muslim harus menerima kebenaran ajaran umat lain, termasuk menerima paham trinitas dan.
                Seruan itu juga merupakan propaganda sinkretisme, pencampuradukan ajaran agama ketuhanan Yesus -agama. Spirit sinkretisme adalah mengkopromikan hal-hal yang bertentangan. Dalam konteks Natal bersama dan tahun baru, termasuk mengucapkan selamat Natal. Padahal dalam Islam ada batasan iman dan kafir, batasan halal dan haram adalah sangat jelas. Tidak boleh dikompromikan !
                Paham pluralisme dan ajaran sinkretisme adalah paham yang sesat. Kaum Muslimin haram mengambil dan menyerukannya. Allah SWT telah menetapkan bahwa satu-satunya agama yang Dia ridhai dan benar adalah Islam. Selain Islam tidak Allah ridhai dan merupakan agama yang batil (lihat QS Ali Imran : 19) karena itu Allah Swt menegaskan : “Barangsiapa mencari agama selain Islam, maka sekali-sekali tidak akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang merugi” (QS Ali Imran :85 ).
Haram Merayakan dan Mengucapkan Selamat Natal
                Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, “selamat” artinya terhindar dari bencana, aman sentosa, sejahtera tidak kurang apapun, sehat, tidak mendapat gangguan, kerusakan dsb, beruntung, tercapai maksudnya, tidak gagal. Dengan begitu ucapan selamat artinya adalah doa (ucapan, pernyataan, dsb) yang mengandung harapan supaya sejahtera, tidak kurang suatu apapun, beruntung, tercapai maksudnya dsb.
                Perayaan Natal adalah peringatan kelahiran Yesus Kristus (nabi Isa al-Masih as) yang dianggap sebagai anak Tuhan dan Tuhan Anak. Lalu bagaimana mungkin, umat Islam disuruh mendoakan agar orang yang berkeyakinan bahwa Isa as adalah anak Tuhan, Tuhan Anak dan meyakini ajaran Trinitas, agar orang itu selamat, tidak kurang suatu apa dan beruntung ? padahal jelas-jelas Allah SWT menyatakan mereka adalah orang kafir (QS al-Maidah :72-75) yang di akhirat kelak akan di jatuhi siksaan yang teramat pedih.
                Umat Nashrani menganggap Isa bin Maryam as sebagai anak Allah. Anggapan seperti itu merupakan kejahatan yang besar. Allah SWT menegaskan : “hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, dan bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak. Dan tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak.” (QS Maryam : 90-92)
                Bagaimana bisa kita diminta mengucapkan selamat kepada orang yang meyakini, merayakan dan menyerukan sesuatu yang di hadapan Allah merupakan kejahatan besar seperti itu ?
                                Tentang Perayaan Natal Bersama (PNB), PNB adalah salah satu media untuk menyebarkan misi Kristen, agar umat manusia mengenal doktrin kepercayaan Kristen, bahwa dengan mempercayai Tuhan Yesus sebagai juru selamat, manusia akan selamat. MUI telah mengeluarkan fatwa melarang umat Islam untuk menghadiri PNB. Fatwa MUI pada 7 Maret 1981, yang isinya antara lain menyatakan: (1) mengikuti upacara Batal bersama bagi umat Islam hukumnya haram (2) agar umat Islam tidak terjerumus kepada syubhat dan larangan Allah SWT,  dianjurkan untuk tidak mengikuti kegiatan-kegiatan Natal.
                Dalam buku Tanya Jawab Agama Jilid II oleh Tim PP Muhammadiyah Makjis Tarjih yang diterbitkan oleh Suara muhammadiyah (1991), hal. 238-240, sudah diterangkan, bahwa hukum menghadiri PNB adalah Haram. Muhammadiyah dalam hal ini juga mengacu kepada fatwa MUI itu.
                Allah SWT berfirman: “ Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka melalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya.” (QS al-Furqan : 72). Makna ayat ini bahwa mereka tidak menghadiri az-zur. Jika mereka melewatinya, mereka segera melaluinya, dan tidak mau terkotori sedikit pun oleh az-zur itu (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir,iii/1346).
                Menurut sebagian besar mufassir, makna kata az-zur (kepalsuan) di sini adalah syirik (Imam asy-Syaukani, Fath al-Qadir, iv/89). Menurut beberapa mufassir seperti Abu ‘aliyah, Thawus, Muhammad bin Sirrin, adh-Dhahhak, ar-Rabi’ bin Anas, dan lainnya, az-zur itu adalah hari raya kaum Musyrik. (Tafsir Ibnu Katsir,iii/1346).
                Kata la yasyhaduna, menurut jumhur ulama bermakna la yahdhuruna az-zur, tidak menghadirinya (Fath al-Qadir,iv/89). Hal itu lebih sesuai dengan konteks kalimatnya, dimana sesudahnya ayat tersebut menyatakan (artinya) “Dan apabila mereka melewati (orang-Orang) yang mengerjakan perbuatan-perbuatan yang tidak berfaedah, mereka lalui (saja) dengan menjaga kehormatan dirinya(QS al-Furqan : 72). Berdasarkan ayat ini pula, banyak fuqaha yang menyatakan haramnya menghadiri perayaan hari raya kaum kafir. Imam Ahmad berkata: “Kaum Muslimin telah diharamkan untuk meraykan hari raya  orang-orang Yahudi dan Nashrani. “Imam Baihaqi menyatakan, “jika Kaum Muslimin diharamkan memasuki gereja, apalagi merayakan hari raya mereka. “ Al-Qadhi Abu Ya’la al-Fara’ berkata, “Kaum Muslimin telah dilarang untuk merayakan hari raya orang-orang kafir atau musyrik”.
                Imam Malik menyatakan, “Kaum Muslimin dilarang untuk merayakan hari raya kaum musyrik atau kafir, atau memberikan sesuatu (hadiah), atau menjual sesuatu kepada mereka, atau naik kendaraan yang digunakan mereka untuk merayakan hari rayanya. Sedangkan memakan makanan yang disajikan kepada kita hukumnya makhruh, baik diantar atau mereka mengundang kita.” (Ibnu Tamiyyah, Iqtidha’ al-Shirath al-Mustaqim, hal.201).
                Ibnu Qayyim al-Jauziyyah mengatakan, “sebagaimana mereka (kaum musyrik) tidak diperbolehkan menampakkan syiar-syiar mereka, maka tidak diperbolehkan pula bagi kaum Muslimin menyetujui dan membantu mereka melakukan syiar itu serta hadir bersama mereka. Demikian menurut kesepakatan ahli ilmu”. (Ibnu Qayyim aal-Jauziyyah, Ahkam Ahl al-Dzimmah, i/235).
                Rasul saw sejak awal melarang kaum muslim ikut merayakan hari raya ahlul Kitab dan kaum musyrik. Dari Anas ra bahwa ketika Rasulullah saw datang ke Madinah, mereka memiliki dua hari raya (hari raya Nayruz dan Mihrajan) yang mereka rayakan, maka Rasul saw bersabda: “Sungguh Allah SWT telah mengganti dua hari itu dengan dua hari yang lebih baik daripada keduanya, yaitu Idhul Adha dan Idul Fithri.” (HR. Abu Dawud dan Nasa’i dengan Sanad yang shahih).
Wahai Kaum Muslimin
                Sungguh amat berbahaya bila hari ini umat justru diseru agar menggadaikan akidahnya dengan dalih toleransi dan kerukunan umat beragama. Begitulah yang terjadi ketika hukum-hukum Allah dicampakkan. Tidak ada lagi kekuasaan berupa al-Khilafah yang melindungi aqidah umat Islam ini. Islam dan ajarannya serta umat Islam terus dijadikan sasaran. Karena itu kita harus makin gigih menjelaskan Islam dan menyerukan syariah dan Khilafah. Sebab hanya dengan syariah dan Khilafahlah, aqidah umat Islam terjaga sekaligus menjamin kesejahteraan dan keamanan umat manusia baik muslim maupun orang-orang kafir. Wallaha’alam bi ash-shawab.             

Senin, Desember 24

Di temukan Injil Kuno Mengabarkan Kedatangan Nabi Muhammad Saw


Sebuah injil berusia 1500 tahun yang menceritakan kedatangan Nabi Muhammad Saw di temukan di Turki. Kabarnya , Gereja Vatikan telah meminta secara resmi kepada pemerintah Turki untuk melihat Injil yang tersimpan selama 12 tahun di negara tersebut.

                Menteri Budaya dan Turki, Ertugul Gunay mengatakan sejalan dengan keyakinan Islam, Injil ini memperlakukan Yesus sebagai manusia bukan Tuhan. Fakta ini, sekaligus menolak ide konsep tritunggal dan penyaliban Yesus.
                “Disebutkan Injil ini, Yesus berkata kepada salah seorang pendeta, bagaimana kami memanggil Mesias? Muhammad adalah nama yang diberkati ,” kata dia membacakan salah satu ayat dalam Injil seperti dikutip alarabiya.net , Gunay menuturkan dalam injil ini juga disebutkan Yesus sendiri menyangkal menjadi Mesias. Yesus mengatakan bahwa Mesias itu adalah keturunan Ismail yakni orang Arab.
                Sebelumnya, Umat Islam sendiri mengklai pesan kedatangan Muhammad Saw juga terdapat dalam Injil Barnabas, Markus, Matius, Lukas dan Yohannas. Gunay mengatakan pihak Vatikan telah meminta salinan Injil tersebut saat Injil tersebut hendak diselundupkan ke luar Turki pada tahun 2000. Kini, Injil tersebut berada dalam brankas pengadilan Ankara. Nantinya, injil tersebut akan diserahkan kepada Museum Etnografi Ankara.
                Meski demikian, kalangan Gereja skeptis dengan keaslian injil tersebut. Seorang pendeta Protestan Ihsan Ozbek mengatakan injil itu berasal dari abad ke-5 atau ke-6. Sementara Barnabas, yang merupakan pemeluk pertama Kristen hidup pada abad pertama. “Salinan injil di Ankara mungkin telah ditulis ulang oleh salah seorang pengikut Barnabas,” kata dia.
                Sebab, lanjutnya, ada jeda 500 tahun antara Barnabas dan penulisan salinan Injil. “Umat Islam mungkin akan kecewa bahwa injil ini tidak ada hubunggannya dengan injil Barnabas,” ujarnya.
                Sementara Profesor Omer Faruk menilai injil itu perlu ditelusuri lebih lanjut guna memastikan Injil itu dibuat oleh Barnabas atau pengikutnya.

17 Warga Jerman Bersyahadat di frankrut


Seorang ulama Jerman, Vogel Pieere yang telah menganut Islam sejak 2001, mengislamkan 17 warga Jerman secara bersamaan di alun-alun kota Frankrut pada 2001 lalu. Ini adalah proses pengislaman terunik karena langsung dilakukan di atas panggung dengan disaksikan ratusan pasang mata warga Jerman di Frankrut.


Vogel Pieere atau yang dikenal dengan Abu Hamza adalah seorang ulama dan guru agama Islam. Ia masuk Islam sesaat setelah tragedi 9 September 2001, dan saat ini telah mengislamkan ratusan orang warga asli Jerman. Vogel Pieere sangat aktif melawan isu di media yang terus mengkampanyekan islamofobia. Salah satu cara ia menangkis isu tersebut adalah membawa pesan damai Islam. Yaitu dengan membuka layanan masuk Islam ditempat tebuka bagi warga Jerman yang ingin memeluk Islam. Salah satunya dalam video ini, 17 warga Frankrut masuk Islam dalam sekali syahadat dihadapan polisi Jerman.

Negeri Sembilan Bangun Komplek Pembinaan Muallaf



                Yang dipertuan Agong Negeri Sembilan Tuanku Muhriz Ibni Almarhum Tuanku Munawir meresmikan kompleks al-Sa’dah, pusat pembinaan muallaf, Kamis (19/1). Sebelumnya, pusat pembinaan muallaf ini telah beroperasi sejak Maret lalu. Ketua Dewan Agama Islam Negeri Sembilan, Mohammad mengatakan peresmian pusat pembinaan muallaf ini merupakan momentum bagi pengembangan dakwah Islam di Negeri Sembilan, Malaysia. “Kompleks pembinaan muallaf ini terhitung sangat lengkap, mulai dari ruang mesjid 300 orang, kantor, penginapan, ruang pendidikan dan makan,” kata dia seperti dikutip Bernama.
                Bersamaan dengan peresmian itu, Tuanku Mahriz menjadi saksi enam muallaf yang mengucapkan dua kalimat syahadat. Dengan demikian Malaysia telah mempunyai dua buah Pusat Pembinaan Muallaf. Selain yang ada di Negeri Sembilan juga terdapat di Negeri Selangor Darul Ihsan dimana pemerintah setempat menyediakan dan ± 300 juta RM atau setara dengan Rp 900 milyar.

Masjid Sunda Kelapa Islamkan 345 Muallaf


Sepanjang tahun lalu, Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) telah mengislamkan 345 orang itu, 30 persen diantaranya warga negara asing (WNA). “Bila ditotal semenjak tahun 1993, Masjid Agung Sunda Kelapa sudah mengislamkan 16.345 orang.” Papar kepala Biadang Pembinaan Muallaf dan Layanan Konsultasi MASK, Anwar Sujana kepada Republika.co.id


                Menurut dia, menjadi mualaf sangatlah berat. Apalagi di era seperti saat ini dimana arus informasi negatif tentang Islam begitu mengemuka. Belum selesai soal itu, mualaf harus menghadapi tekanan keluarga terhadap keyakinan barunya. “Ditambah persoalan lain yang sangat berpengaruh seperti ekonomi, sosial dan budaya yang melatari kehidupan mualaf sebelumnya,” kata dia. Ke depan, kata Anwar, meski fokus Umat Islam terhadap pembinaan mualaf masih jauh dari harapan. Pada akhirnya, umat Islam tanah air akan menaruh perhatian dalam perkembangan mulaf.
                “Harapannya umat Islam dapat memberikan perhatian lebih kepada saudara-saudara barunya. Sangat mungkin, melalui perhatian yang diberikan, kelak para mualaf ini akan berperan dalam mewujudkan kemajuan Islam,” pungkasnya.