Minggu, April 1

MAURICE BUCAILLE MASUK ISLAM KARENA MUMI FIR’AUN


Profesor Maurice Bucaille adalah seorang dokter ahli bedah terkemuka di dunia yang berasal dari Prancis. Ia mempunyai cerita yang sangat menakjubkan. Ia menjelaskan sebab musabab dirinya meninggalkan agama Katolik yang di anutnya bertahun-tahun, kemudian menyatakan dirinya memeluk Islam. Setelah menyelesaikan study setingkat SMA-nya, ia menetapkan untuk mengambil jurusan kedokteran pada sebuah universitas di Prancis. Ia termasuk salah satu dari mahasiswa yang berprestasi hingga akhir tahun, karena kecerdasan dan keahlian yang di milikinya, dia kemudian menjadi seorang dokter terkemuka di Prancis.
                Prancis adalah negara yang terkenal sangat menjaga  dan mementingkan barang-barang peninggalan kuno dibandingkan dengan negara yang lainnya, terutama pada masa kepemimpinan Fransu Metron tahun1981. Pada tahun itu, Prancis meminta izin kepada Mesir agar mereka diberikan kesempatan untuk memeriksa dan meneliti Mumi Fir’aunnya yang terkenal. Sebuah Mumi yang tak asing di kalangan orang-orang Islam. Fir’aun ini adalah orang yang di tenggelamkan Allah SWT dilaut merah, tatkala melakukan pengajaran terhadap Nabi Musa AS. Permintaan Prancis ditanggapi oleh Mesir dengan mengizinkan Prancis untuk mengadakan penelitian. Mumi Fir’aun dipindahkan dengan menggunakan pesawat terbang. Setibanya, di Prancis, kedatangan Mumi tersebut disambut oleh Presiden Franso Metron beserta para menterinya seolah-olah dia masih hidup.
                Mumi tersebut kemudian di pindahkan ke pusat barang-barang kuno milik Prancis untuk di serahkan kepada ilmuwan dan dokter bedah, supaya mereka dapat mempelajari rahasia yang terkandung dari Mumi tersebut, dan Profesor Maurice Bucalle bertindak sebagai ketua tim penelitian. Atas izin Allah Ta’ala, seorang Dokter bedah dari Prancis menyatakan dirinya masuk Islam, disebabkan oleh Mumi Fir’aun.
                Semua tim peneliti bertugas untuk meneliti, memperbaiki tulang-tulang yang sudah rusak dan anggota tubuh yang lainnya. Berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Profesor Maurice Bucaille, ia justru menyelidiki tentang rahasia kematian Fir’aun. Pada suatu malam, ia memperoleh hasil penelitiannya: bahwa terdapat bekas garam yang menempel pada mayat Mumi, sehingga dapat ia jadikan sebuah bukti yang nyata bahwa Fir’aun mati karena tenggelam dan mayatnya dapat di selamatkan, kemudian di awetkan pada saat kejadian.
                 Dari hasil penelitiannya, timbul beberapa pertanyaan yang susah untuk ia dapatkan jawabannya yaitu bagaimana mayat Fir’aun dapat diselamatkan, dan anggota tubuhnya masih tetap utuh, sedangkan kondisi mayat-mayat yang lainnya setelah di awetkan tidak seperti dirinya? Namun sebelum ia selesai membuat kesimpulan, salah seorang temannya berbisik dengan berkata: “ Jangan teburu-buru seperti itu, karena orang-orang Islam telah mengetahui tentang hal ini.”
                Mendengar pernyataan dari temannya itu, ia menolak keras atas pernyataan tersebut. ia berkata: “ Penemuan seperti ini tidak mungkin dilakukan kecuali ada dukungan sains dan teknologi canggih”. Salah seorang temannya yang lain menanggapi seraya berkata: “Al-Quran merekalah yang telah menceritakan kematiannya dan bagaimana jasadnya diselamatkan dari tenggelam.” Mendengar penjelasan temannya itu, Bakay kebingungan dan bertanya-tanya bagaimana hal ini bisa terjadi? Sedangkan Mumi ini sendiri baru di temukan pada tahun 1898 atau kurang lebih baru 200 tahun yang lalu, sedangkan Al-Quran mereka sudah ada semenjak lebih dari 1400 tahun......!!!!!!!! Bagaimana  akal manusia dapat mengetahuinya, padahal semua manusia bukan hanya orang-orang Arab belum ada yang mampu mengetahui bagaimana peradaban orang-orang Mesir di masa lampau dan bagaimana caranya mereka mengawetkan mayat, kecuali pada masa 10 tahun yang lalu?





                Maurice duduk termenung di dekat Mumi Fir’aun tersebut sambil memikirkan tentang bisikan yang telah ia dengar dari temannya: bahwasanya Al-Quran telah menceritakan kejadian itu, padahal kitab sucinya hanya menceritakan tentang tenggelamnya Fir’aun akan tetapi   di dalamnya tidak dijelaskan tentang keadaannya sesudah tenggelam. Ia pun bergumam dalam kesendiriannya:  “Masuk akalkah bahwa jasad yang ada di depanku ini adalah Fir’aun Mesir yang telah mengusir Nabi Musa ? benarkah kalau Nabinya orang Muslim yang bernama Muhammad itu sudah mengetahui tentang hal ini sejak 1400 tahun yang silam ?
                 Berbagai pertanyaan yang belum sempat terjawab, membuat Profesir Maurice tidak dapat tidur di setiap malam. Ia kemudian mengambil Kitab Taurat dan membacanya:  “Kemudian air itupun kembali pada keadaan  sedia kala, kemudian air laut itupun menenggelamkan perahu-perahu beserta Fir’aun  dan bala tentaranya, hingga tidak tersisa satupun di antara mereka.”
                Setelah menyelesaikan penelitian dan perbaikan, maka Mumi tersebut kemudian di kembalikan ke Mesir dengan menggunakan peti yang terbuat dari kaca nan elok, karena menurutnya itu lebih pantas untuk orang yang berkedudukan seperti Fir’aun. Akan tetapi Bakay masih dalam kondisi belum puas dengan berita yang di dengarnya, bahwa orang-orang Islam telah mengetahui keselamatan Mumi ini. Ia pun lalu berkemas untuk berkunjung ke Saudi Arabia guna menghadiri seminar kedokteran yang akan di hadiri para pakar bedah muslim.
                Dalam pidatonya, Profesir Maurice memulai pembiacaraannya tentang hasil penyelidikan bahwa jasad Fir’aun dapat diselamatkan setelah tenggelam, kemudian salah seorang di antara pakar Muslim berdiri dan membuka serta membacakan mushaf pada Surat Yunus ayat 92 yang artinya:  “Pada hari itu kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat dijadikan pelajaran bagi orang-orang sesudahmu Dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami.
                Profesor Maurice Bucaille terheran-heran dengan penjelasan yang baru saja ia dengar, ia lalu beranjak dari tempat duduknya dan dengan suara lantang ia berkata: “ Pada hari ini, aku menyatakan diri untuk memeluk agama Islam dan aku mengimani Al-Quran ini.”
                Setelah selesai seminar Profesor Maurice Bucaille lalu kembali ke Prancis dengan wajah yang berbeda dari wajah sebelum ia datang menghadiri seminar. Selama 10 tahun ia tidak mempunyai pekerjaan lain, selain mempelajari tentang sejauh mana keserasian dan kesinambungan Al-Quran dengan Sains, serta perbedaan yang bertolak belakang dengannya. Namun apa yang ia dapati selalu berakhir sebagaimana Firman Allah SWT: “ Yang tidak datang kepada Al-Quran kebatilan baik dari belakang maupun depannya, yang di turunkan dari Tuhan Yang Maha Bijaksana lagi terpuji” (Q.S : Fush Shilat-43)
                Dari hasil penyelidikan yang bertahun-tahun, ia kemudian menulis sebuah buku tentang kesinambungan Al-Quran dengan sains yang mampu mengguncangkan Eropa. Sehingga para pakar-pakar dan para ilmuwan Barat yg berusaha untuk mendebatnya, mereka tidak kuasa.

*THE END*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar