Jumat, Maret 23

JULIANNE SCASNY HATIKU BERGETAR SAAT MEMBACA AL-QURAN (Julianne Scasny trembling WHILE READING MY HEART AL-QURAN)


Suatu hari, Julianne Scasny mengikuti kelas sejarah. Tema yang di pelajari saat itu tentang sejarah agama-agama besar di dunia. Di depan ruang kelas, sang guru tengah menjelaskan agama Islam. Saat guru tengah asyik  bercerita tentang Islam, tiba-tiba seorang teman Julianne protes. Siswa yang berasal dari Mesir dan beragama Islam itu tak sependapat dengan penjelasan gurunya. Pelajar Muslim itu mengoreksi dan meluruskan informasi yang salah tentang Islam. “Wow, dia berani sekali membantah guru,”ujar Julianne. Sejak terjadi perdebatan antara temannya yang Muslim dengan guru sejarah itulah, wanita kelahiran Michigan, Amerika Serikat tersebut mulai tertarik dengan Islam.



          Julianne sangat penasaran dengan Islam. Pada suatu hari, ia pun bertanya kepada temannya yang beragama Islam tentang perbedaan antara agama Katolik agama yang saat itu di anutnya dan Islam. Sayangnya, temannya itu tak banyak memberi penjelasan. Rasa ingin tahunya tentang Islam pun tak terpenuhi. Ia tak menyerah. Untuk mencari tahu tentang Islam, Julianne mengunjungi rumah teman sekelasnya yang Muslim itu. Ia lalu meminjam Alquran dari orangtua temannya. Tentu saja , Alquran yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris.


          Hati Julianne bergetar saat membaca Alquran. Gadis pecinta sastra dan pemuja puisi itu sangat terpesona dengan kitab suci umat Islam yang amat indah. Ketertarikannya pada keindahan bahasa Alquran mendorongnya untuk membaca seluruh ayat-ayat suci itu. Dalam kalbunya terbesit sebuah keyakinan. “Anda kitab ini di tulis dalam bahasa Inggris, sekalipun, penulisnya tak mungkin seorang manusia. Ini firman Tuhan,”ujar Julianne dalam hati. Ia begitu yakin dengan kebenaran dari Alquran. “Dan saya menjadi Muslim di dalam hati,”kata wanita yang pernah berkeinginan menjadi seorang biarawati itu. Julianne pun mengucap dua kalimat syahadat. Ia bertekad menjadi seorang Muslimah, meski tantangan berat harus dihadapinya. Dalam hatinya telah tertanam sebuah keyakina bahwa Islam adalah agama yang paling benar.
          Julianne berasal dari keluarga keturunan Polandia-Suriah. Ia terlahir pada 25 April 1982. Ayahnya adalah seorang campuran Polandia dan Slovakia, sedangkan ibunya seorang Halab, Suriah yang lahir di Detroit. Julianne pun lahir sebagai Katolik di Detroit, Michigan. Kedua orangtuanya murka begitu tahu bahwa Julianne telah memeluk Islam. Mereka tidak bisa menerimanya, terutama sang ibunya. Sebenarnya ia amat berharap orangtuanya dapat menerima Islam sebagai agamanya, namun ternyata sebaliknya.
          Ibunya berusaha melarangnya berteman dengan orang-orang Muslim. Sang ibu juga keras menelepon orangtua temannya agar tak lagi mendakwahkan Islam kepada Julianne. Saat itu, ia bingung. Namun , imannya tak goyah sedikitpun. Setiap hari ayah membongkar kamarnya. Semua barang-barang bernuansa Islam yang ada di kamar Julianne seperti sajadah, hijab, dan Alquran disita ayahnya. Julianne terpaksa menyembunyikan Alquran di ventilasi pendingin udara agar tak dapat terjangkau ayahnya. Ia amat khawatir kedua orangtuanya akan membuang Alquran itu.
          Berbagai upaya dilakukan kedua orangtuanya agar Julianne melepas keyakinannya sebagia Muslim. Mereka berusaha mengajaknya ke gereja. Suatu hari ibunya berupaya mempertemukannya dengan seorang pendeta. Di hadapan pendeta Julianne mengatakan amat cinta kepada Islam.
          “Aku tak habis pikir. Bagaimana sesuatu yang indah ini (Islam) di anggap buruk oleh orang-orang, ucap Julianne. Pendeta tersebut mengatakan bahwa mimpi Julianne yang pergi ke negara Muslim sambil berhijab adalah perbuatan setan. “Saya tidak dapat melupakan wajahnya, ia terlihat seperti setan ketika ia mengatakan itu,”ujarnya menggebu-gebu. Julianne juga mengisahkan bagaimana ibunya sering berbohong. Sang ibu kerap menghidangkan masakan yang terbuat dari daging babi, namun mengaku terbuat dari daging sapi. Sebagai Muslimah, Julianne amat selektif  dalam memilih makanan. Ia harus memastikan hidangan yang disantapnya halal. Ia pun memeriksa pembungkus makanan yang dihidangkan ibunya. Ternyata dugaannya benar masakan yang disajikan itu terbuat dari daging babi. Ayahnya pun pernah membuatnya memilih untuk tinggal dirumah sebagai seorang Katolik atau meninggalkan rumah.
          Shalat adalah sesuatu yang sangat sulit dilakukan di rumah, mereka mengolok-olok ketika saya shalat,”ujarnya. Sejujurnya Julianne mengaku sangat sakit hati di perlakukan seburuk itu. Keluarganya selalu menghina Islam, agama yang di anutnya. Julianne mengaku mempelajari shalat dalam bahasa Arab secara ototidak melalui video dan buku-buku. Ia juga mulai menjelaskan tentang Islam kepada adik perempuannya. Mengetahui soal itu, kedua orangtua Julianne mengancam akan mengusirnya dari rumah. Julianne pun berhenti mengajarkan Islam kepada adiknya. Meski begitu, ia sempat mengatakan banyak hal kepada adiknya tentang Islam. Adiknya pun tertarik dan bahkan mulai mempertanyakan sejumlah hal tentang Islam.


          Berada dibawah tekanan dari kedua orangtuanya, julianne pun mulai kesulitan untuk menunaikan shalat. Ia sempat berhenti melakukan shalat. Ia tak pernah berhenti berdoa di dalam hati agar diberi kesempatan untuk mendalami Islam ketika dewasa. Tidak seorang pun mendukung keislamannya, kecuali orangtua teman-temannya yang meminta Julianne agar mendengarkan nasehat kedua orangtuanya. Teman-teman Muslimnya juga tidak benar-benar mengerti apa yang di alaminya. Barangkali, mereka sendiri belum benar-benar dewasa dan mengerti tentang Islam secara baik.
          Ketika usinya menginjak 20 tahun dan sudah berstatus sebagai mahasiswi, doa Julianne yang ingin mendalami Islam terkabul. Ia mendapat kabar disekitar lingkungannya di bangun sebuah mesjid. Untuk memastikan kabar itu, ia menelepon wanita yang memberinya Alquran dan menanyakan tentang mesjid yang baru di bangun di dekat rumahnya. Sebelum berdiri rumah ibadah itu, mesjid terdekat di daerahnya tinggal harus di tempuh selama 45menit hingga satu jam perjalanan. Berdirinya mesjid itu membuatnya amat bahagia. Julianne pun memutuskan untuk mengulang syahadatnya sebagai seorang Muslim, tepat pada bulan Ramadhan. Ia pun berkomitmen akan mendalami Islam dan tidak lagi peduli dengan larangan orangtuanya. “Saya merasa seperti Nabi Yunus yang berada di perut ikan paus. Namun saya bertekad untuk keluar dari kebiasaan buruk itu”kenangnya.
          Julianne pun mulai memakai hijab, meski kedua orangtuanya melarang. Iman dalam hatinya sudah mantap. Islam adalah jalan hidupnya. Ia sudah tidak lagi menghiraukan perintah kedua orangtuanya untuk meninggalkan Islam. Agar bisa mengenakan jilbab, terkadang Julianne memakainya di mobil.  Ibunya sangat kecewa. “Ia mengatakan aku seorang wanita tua, ketika aku mengenakan jilbabku. Ketika ia berusaha mengambil hijab itu dari kepalaku, aku memukulnya. “ Astagfirullah
          Julianne benar-benar mengalami kehidupan yang berat pada saat itu. Sang ibu menilai dirinya telah membuat malu keluarga. Ibunya mengatakan tidak ingin melihat Julianne di kota tempatnya tinggal.  Ia akhirnya tinggal di rumah neneknya. Lagi-lagi Julianne mengalami kesulitan. Ketika sedang menunaikan shalat, sang nenek berteriak padanya, “Tidakkah kau mendengarkanku ketika aku berbicara denganmu?”. Mereka menertawakan dan mengolok-oloknya ketika membaca Alquran. Kakeknya bahkan tidak mau lagi berbicara dengannya. Ibunya sempat membawa Julianne ke seorang psikoterapi. Ia pun di beri obat psikotik. Tentu saja, ia tidak mau memakannya, justru membuangnya.


          Satu-satunya hal yang dapat kulakukan agar keluar dari kesulitan ini adalah dengan menikah,”tuturnya. Julianne pun mengganti namanya menjadi Noora Alsamman. Pernikahannya pun dilalui dengan sejumlah hambatan. Ia bertemu dengan seorang Muslim dari Damaskus, Suriah. Sang ibu tidak menyetujui pernikahannya dengan calon suaminya. Julianne memutuskan untuk menikah secara Islam. Hal inilah yang membuatnya tidak setuju. Selain itu, suaminya juga adalah seorang Muslim. “Ibu ingin aku menikah dengan seseorang Kristen dan melaksanakannya di gereja,”tuturnya. Ia ingin melihat anaknya memakai gaun putih dan pernikahannya tersebut di Sahkan di gereja.
          Keteguhan hatinya pada Islam membuat pernikahan itu akhirnya berjalan dengan lancar, meskipun sang ibu terus berusaha membatalkannya. Sang ibu memaksa Julianne untuk berpacaran terlebih dahulu dengan suaminya agar mereka saling mengenal. 


          Setelah menikah, Julianne alias Noora pindah dari Atlanta ke Houston. Setahun kemudian mereka di karuniai seorang putra bernama Yusuf. “Alhamdulilah, saya berharap, insyaallah bisa pindah ke Madinah,”katanya. Di akun facebooknya, Noora memadukan nama asli dengan nama Islamnya menjadi  Julianne Noora Scasny Alsamman. Status-statusnya di isi dengan pesan-pesan keislaman dan rasa syukurnya menjadi seorang Muslimah.


*THE END*

CAT STEVEN, MASUK ISLAM SAAT BERADA DI PUNCAK (CAT STEVEN, IN ISLAM IN TOP)


CAT STEVEN, MASUK ISLAM SAAT BERADA DI PUNCAK


Popularitas dan kekayaan tidak menjamin seseorang hidup bahagia. Cat Steven, bintang pop era tahun 70-an, yang kemudian di kenal dengan nama Yusuf Islam, justru merasakan kegelisahan hidupnya ketika sedang berada di puncak popularitas dimana ia hidup bergelimang harta. Kegelisahan yang mendorongnya untuk menyusuri jalan panjang mencari Tuhan hingga ia menemukan cahaya Islam dan akhirnya menjadi juru dakwah lewat kegiatan musiknya dan aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial.
Bintang Pop
          Sejak kecil Yusuf Islam sudah akrab dengan panggung-panggung hiburan karena bisnis keluarganya bergerak dalam bidang itu. Ia terbiasa hidup dalam kemewahan kalangan sosial kelas tinggi di Inggris. Sebagai penganut ajaran Kristen, keluarganya mengajarkan Yusuf bahwa Tuhan itu ada, tapi manusia tidak bisa melakukan kontak  langsung dengan Tuhan. Umat Kristiani meyakini Yesus sebagai perantara antara manusia dengan Tuhan. “Saya menerima ajaran itu, tapi saya tidak menelannya mentah-mentah.”kata Yusuf. “Saya meilhat patung-patung Yesus, mereka Cuma benda mati tanpa nyawa. Saya tambah bingung ketika mereka bilang Tuhan ada tiga. Tapi saya tidak mendebat  pernyataan itu. Saya menerimanya, karena saya harus menghormati keyakinan orang-orang tua saya,sambungnya.
          Beranjak dewasa, Yusuf mulai menggeluti musik dan ia mulai melupakan kebingungannya terhadap ajaran agamanya karena ia sendiri mulai jauh dari  kekristenan. Impiannya saat itu hanyalah menjadi bintang musik pop. Apa yang ia lihat dan ia baca di media massa sangat mempengaruhi  pemikirannya untuk menjadi seorang bintang. Yusuf punya paman yang punya mobil mewah dan mahal. Ketika itu Yusuf berpikir, pamannya punya mobil mewah karena punya banyak uang. “ Banyak orang di sekeliling saya memberi pengaruh pada pemikiran saya bahwa uang dan dunia adalah Tuhan mereka. Sehingga saya memutuskan untuk bahwa itulah hidup saya. Banyak uang, hidup enak,”tutur Yusuf. Meski demikian,Yusuf mengaku saat itu masih ada sisi kemanusiaan jauh di dalam hatinya. Keinginan untuk membantu sesama manusia jika ia jadi orang kaya kelak.
          Yusuf pun membangun karirnya sebagai musisi dan penyanyi. Dalam usia yang masih remaja, Yusuf sudah mengenyam kesuksesan dan keinginan menjadi seorang ‘bintang besar’ tercapai. Nama dan foto-fotonya muncul di hampir seluruh media massa. Yusuf pun merasakan kenikmatan dunia, tapi itu tak membuatnya jadi puas, ia ingin hidup yang lebih dan lebih dari apa yang ia miliki, sayangnya Yusuf terjerumus ke jalan yang salah. Ia memilih Narkoba dan minuman keras untuk mencari  kehidupan yang ia inginkan itu.
Mencari Kebenaran
        Baru setahun Yusuf mengenyam kesuksesan dalam karir dan finansialnya. Yusuf terkena tubercolusis akibat gaya hidup dan kebiasaannya menenggak minuman keras dan  narkoba. Ia sakit parah dan harus di rawat dirumah sakit. Saat itu pun Yusuf pun berpikir,”mengapa saya disini, tergeletak ditempat tidur?, “apa yang terjadi pada saya? Apakah saya Cuma seonggok tubuh ? apakah tujuan hidup saya semata-mata hanya untuk  memuaskan tubuh ini?. Pertanyaan-pertanyaan itu menganggu pikirannya dan ia mencoba mencari jawabannya.
          Karena pada masa itu di kalangan masyarakat Barat sedang trend mempelajari hal-hal yang berbau mistis dari Timur, Yusuf pun ikut mempelajarinya. Ia mulai sadar tentang kematian. Ia mulai melakukan meditasi dan vegetarian. Tapi pertanyaan-pertanyaan itu bahwa dirinya bukan hanya seonggok tubuh manusia, tetap menganggu pikirannya.
          Sebagai bintang pop, namanya terus merangkak ke tangga popularitas. Kekayaan terus mengalir, tapi ketika itu Yusuf mulai mencari kebenaran. Ia pun belajar agama Budha, namun di satu sisi, Yusuf belum berani meninggalkam kehidupan glamournya, meninggalkan kehidupan dunia dan hidup seperti selayaknya pendeta Budha, mengisolasikan diri dari masyarakat. Selanjutnya, Yusuf juga mempelajari Zen dan Ching, numerologi, kartu tarot dan astrologi, balik lagi ke alkitab, tapi Yusuf tidak menemukan apa yang di carinya, kebenaran yang hakiki. Sampai kemudian apa yang disebutnya mukjizat itu datang.


          “Saudara lelaki saya baru saja kembali dari kunjungannya ke Yerussalem dan disana ia mengunjungi sebuah mesjid. Saudara saya itu sangat terkesan melihat mesjid yang ramai di kunjungi orang, seperti ada denyut kehidupan, tapi atmosfir ketenangan  dan kedamaiannya tetap terasa. Berbeda rasanya ketika ia mengunjungi gereja dan sinagog yang sepi,”kata Yusuf.
          Ketika kembali ke London, Saudara lelakinya itu memberikan Alquran kepada Yusuf Islam. “Dia tidak masuk Islam, tetapi ia merasakan sesuatu di agama ini(Islam) dan ia pikir saya juga akan merasakan hal yang sama. Saya menerima Alquran pemberian saudara saya itu dan membacanya. Saat itulah saya merasakan bahwa saya telah menemukan agama yang benar, agama yang tidak seperti pandangan orang Barat selama ini bahwa agama hanya untuk orang-orang tua,”tukas Yusuf.
          Ia melanjutkan, “di Barat, jika ada orang yang memeluk satu agama dan menjadikannya sebagai cara hidupnya, maka orang yang bersangkutan akan di anggap fanatik. Tapi setelah membaca Alquran saya yang awalnya bingung tentang tubuh dan jiwa, akhirnya menyadari bahwa keduanya adalah bagian yang tak terpisahkan, Anda tidak perlu pergi ke gunung untuk menjadi religius.”


          Saat itu, satu-satunya yang diinginkan Yusuf Islam adalah menjadi seorang Muslim. Dari Alquran ia tahu bahwa semua Rasul dan Nabi dikirim Allah Swt untuk menyampaikan pesan yang sama. “Mengapa kemudian Yahudi dan Kristen berbeda? Kaum Yahudi tidak mau menerima Yesus sebagai Messiah dan mereka mengubah perintah-perintah Tuhan. Sementara Kristen salah memahami perintah-perintah Tuhan dan menyebut Yesus sebagai anak Tuhan. Tapi dalam Alquran saya menemukan keindahan, Alquran melarang menyembah matahari atau bulan tapi memerintahkan umat manusia untuk mempelajari dan merenungi semua ciptaan Allah Swt,”papar Yusuf Islam. “Ketika saya membaca Alquran lebih jauh lagi,  alQuran bicara soal shalat, sedekah dan perbuatan baik. Saya belum menjadi soerang Muslim saat itu, tapi saya merasa al Quran adalah jawaban buat saya dan Allah Swt telah mengirimkannya pada saya,”sambung Yusuf Islam.
*THE END*