Minggu, April 1

PROF. TEJASEN : SEBELUM MENJADI MUSLIM, ISLAMKAN LIMA MAHASISWA


“Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat Kami, kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain, supaya mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (Qs. An-nisa:56)
                Bagi sebagian besar umat Islam, ayat di atas terdengar seperti ayat-ayat serupa dalam Al-Quran yang menjelaskan pedihnya siksa neraka bagi orang-orang yang tidak beriman. Namun tidak demikian bagi Tagatat Tejasen, seorang ilmuwan Thailand di bidang anatomi. Baginya, ayat itu adalah sebuah keajaiban.
                Konferensi Kedokteran Saudi ke-6 di Jeddah yang di ikuti Tejasen pada Maret 1981 menjadi awal kisah pertemuannya dengan keajaiban itu. Dalam konferensi yang berlangsung selama 5 hari itu, sejumlah ilmuwan Muslim menyodori Tejasen beberapa ayat Al-Quran yang berhubungan dengan anatomi.
                Tejasen yang beragama Budha kemudian mengatakan bahwa agamanya juga memiliki bukti-bukti serupa yang secara akurat menjelaskan tahap-tahap perkembangan embrio. Para ilmuwan Muslim yang tertarik mempelajarinya meminta Profesor asal Thailand itu untuk menunjukkan ayat-ayat tersebut pada mereka.
                Setahun kemudian, Mei 1982, Tejasen menghadiri konferensi kedokteran yang sama di Dammam, Arab Saudi. Saat di tanya tentang ayat-ayat anatomi yang pernah dijanjikannya, Tejasen justru meminta maaf dan mengatakan bahwa ia telah menyampaikan pernyataan tersebut sebelum mempelajarinya. Ia telah memeriksa kitabnya dan memastikan bahwa tidak ada referensi darinya yang dapat dijadikan bahan penelitian. 


                Ia kemudian menerima saran para ilmuwan Muslim untuk membaca sebuah makalah penelitian karya Keith Moore, seorang Profesor dibidang anatomi asal Kanada. Makalah itu berbicara tentang kecocokan antara embriologi modern dengan apa yang disebutkan dalam Al-Quran. Tejasen tercengang saat membacanya. Sebagai ilmuwan dibidang anatomi, ia menguasai dermatologi (ilmu tentang kulit). Dalam tinjauan anatomi, lapisan kulit manusia terdiri dari  tiga lapisan global, yakni Epidermis, Dermis, dan Sub Cutis. Pada lapisan yang terakhirlah, Sub Cutis, terdapat ujung-ujung pembuluh darah dan syaraf.
                Penemuan modern dibidang anatomi menunjukan bahwa luka bakar yang terlalu dalam akan mematikan saraf-saraf yang mengatur sensasi. Saat terjadi Combustio grade III (luka bakar yang telah menembus Sub Cutis), seseorang tidak akan merasakan nyeri. Hal itu di sebabkan tidak berfungsinya ujung-ujung serabut saraf afferent dan efferent pengatur sensasi yang rusak oleh luka bakar tersebut.
                Makalah tersebut tidak hanya menunjukan keberhasilan tekhnologi kedokteran dan perkembangan ilmu anatomi, namun juga membuktikan kebenaran Al-Quran. Ayat 56 surat An-Nisa mengatakan bahwa Allah akan memasukkan orang-orang kafir ke dalam neraka, dan mengganti kulit mereka dengan kulit yang baru setiap kali kulit itu hangus terbakar, agar mereka merasakan pedihnya azab Allah.
                Jantung Tejasen berdebar. “Bagaimana mungkin Al-Quran yang diturunkan 14 abad yang lalu telah mengetahui fakta kedokteran ini?”. Sebelum berhasil mengatasi keterkejutannya, Tejasen disodori pertanyaan oleh para ilmuwan Muslim yang mendampinginya, “Mungkinkah ayat Al-Quran ini bersumber dari manusia?”. Ketua Jurusan  Anatomi Universitas Chiang Mai Thailand itu sontak menjawab, “Tidak, kitab itu tidak mungkin berasal dari manusia. Ia kemudian termangu dan melanjutkan responsnya, “Lalu dari mana Muhammad kiranya menerimanya?”
                Mereka memberitahu Tejasen bahwa Tuhan itu adalah Allah, yang membuat Tejasen semakin ingin tahu. “Lalu, siapakah Allah itu ?” tanyanya. Dari para ilmuwan Muslim tersebut, Tejasen mendapatkan keterangan tentang Allah, Sang Pencipta yang dari-Nya bersumber segala kebenaran dan kesempurnaan. Dan Tejasen tak membantah semua jawaban yang diterimanya. Ia membenarkannya.
                Profesor yang pernah menjadi dekan Fakultas Kedokteran Universitas Chiang Mai lalu itu kembali ke negaranya, tempat ia menyampaikan sejumlah kuliah tentang pengetahuan dan penemuan barunya itu. Informasi yang di kutip oleh laman special.worlofislam.info menyebutkan bahwa kuliah-kuliah Profesor yang masih beragama Budha itu, di luar dugaan, telah mengislamkan lima mahasiswanya.
                Hingga akhirnya, pada konferensi Kedokteran Saudi ke-8 yang diselenggarakan di Riyadh, Tejasen kembali hadir dan mengikuti serangkaian pidato tentang bukti-bukti Al-Quran yang berhubungan dengan ilmu medis. Dalam konferensi yang berlangsung selama lima hari itu, Tejasen banyak mendiskusikan dalil-dalil tersebut bersama para sarjana Muslim dan non-Muslim.
                Di akhir kenferensi, 3 November 1983, Tejasen maju dan berdiri di podium. Di hadapan seluruh peserta konferensi, ia menceritakan awal ketertarikannya pada Al-Quran, juga kekagumannya pada makalah Keith Moore yang membuatnya meyakini Islam.
                “Segala yang terekam dalam Al-Quran 1400 tahun yang lalu pastilah kebenaran, yang bisa dibuktikan oleh sains. Nabi Muhammad yang tidak bisa membaca dan menulis pastilah menerimanya sebagai cahaya yang di wahyukan oleh Yang Maha Pencipta,”katanya. Tejasen lalu menutup pidatonya dengan mengucap dua kalimat syahadat.

*THE END*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar